Gajiku bukan aku…???
Judul yang singkat, namun cukup mengajak kita sejenak teringat kembali akan sikap kita selama ini terhadap pendapatan yang selama ini kita peroleh. Sebagian dari kita seringkali mengeluhkan rendahnya pendapatan kita setiap bulan yang akan cepat habis dalam hitungan hari setelahgaji diterima. Ada lagi malah yang terjebat dengan hutang kart kredit karena pendapatannya tidak sebanding dengan pengeluarannya. Sebagian yang lain terpaksa harus menahan hasrat untuk membeli berbagai macam barang maupun kebutuhannya dan terpaksa menjadikan pakaian baru, sepatu baru, serta potongan rambut model terbaru menjadi barang tersier dikarenakan tidak seimbangnya antara pendapatan dan pengeluaran..
Disisi lain, ada sekelompok orang yang berpenghasilan luar biasa dengan tingkat kesulitan rendah dalam memperoleh uangnya tersebut. Karena dengan mudahnya ia memperoleh uang dengan gajinya yang cukup besar, mudah pula ia menghabiskan untuk membeli berbagai macam kebutuhan yang bagi sebagian orang adalah barang mewah…
Kondisi kedua sisi inilah yang kadang kita lihat di dalam masyarakat kita sebagai salah satu cikal bakal kecemburuan sosial. Dimana satu sisi dari tingkat masyarakat tertentu mampu memenuhi berbagai macam kebutuhan dan membiayai gaya hidupnya sendiri dengan nilai materil yang tinggi, sedangkan banyak dari satu sisi kalangan masyarakat yang terpaksa harus menahan segala keinginannya untuk hidup layak dan berkecukupan…
Banyak dari kita melihat hanya dari sisi materilnya saja. Hanya karena seseorang tidak kaya, tidak berpenampilan baik, maka kita menyepelekan. Padahal bukan seperti ini cara kita mengenali orang. Orang paling mudah kita kenali dari bahasanya. Karena bahasa adalah pembeda kelas yang sebetulnya. Orang yang berpenampilan biasa saja namun berbahasa yang baik, pasti orang yang menyimpan kekuatan yang besar. Tetapi orang yang keliatannya besar tetapi berbahasa kurang baik, itu tanda ada kualitas yang kurang baik yang disembunyikan dari khalayak banyak…
Jadi berhati-hatilah dalam menilai orang, lebih baik menghormati terlalu tinggi daripada menghormati dengan cara yang kurang…
Tinggalkan sebuah Komentar
Belum ada komentar.
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal

